2 Fakta Bukit Algoritma, ‘Silicon Valley’nya Indonesia Jalan Ditempat

Bukit Algoritma di Cikidang, Sukabumi

Safir.id—Bukit Algoritma di Cikidang, Sukabumi, sampai saat ini belum ada kejelasan kapan selesai. Padahal, proyek ini digadang-gadang menjadi ‘Silicon Valley’-nya Indonesia seperti di Amerika Serikat.

Ketua Pelaksana Kiniku Bintang Raya KSO selaku pemilik proyek, Budiman Sudjatmikom menegaskan, proses pembangunan Bukit Algoritma masih berlangsung hingga sekarang.

Budiman menjelaskan saat ini pembangunan proyek Bukit Algoritma masih dalam tahap pertama. Pihaknya masih fokus merenovasi gedung-gedung terbengkalai yang memang sudah ada di kawasan tersebut.

“Baru tahap pertama, ini kan baru renovasi gedung-gedung yang ada saja, belum bikin gedung yang baru. Kan itu sudah ada gedung di sana, jadi lebih banyak merenovasi gedung-gedung yang memang sudah lama terbengkalai,” jelas Budiman.

Baca juga: Mahasiswa Tak Wajib Buat Skripsi Syarat Kelulusan

1. Menunggu Investor

Diakui Budiman, progres pembangunan baru mencapai 10-15% dan tidak mengelak jika proses pembangunan Bukit Algoritma tahap satu ini bisa saja molor dari target sebelumnya yang akan selesai pada 2024.

“Untuk tahap pertama, masih 10-15% lah. Karena masih renovasi, belum ada pembangunan gedung baru. Mungkin akan kita evaluasi terbangunnya bisa 2025 gitu yah,” ungkap Budiman.

“Karena kita masih menunggu investor-investor baru juga kan, investor yang lama kan tidak mencukupi untuk bikin (gedung) yang baru, jadi lebih fokusnya kepada yang renovasi,” tambahnya.

Baca juga: 6 Fakta Pergelaran Angklung Pecahkan Guiness Book Records

2. Seret Investasi

Budiman mengaku proyek Bukit Algoritma masih seret investasi. Sejak groundbreaking pada 2021 lalu, proyek pembangunan ini baru mendapat investasi kurang dari Rp 1 triliun.

Padahal, secara keseluruhan proyek ini ditaksir menelan investasi mencapai Rp 18 triliun. Kondisi ini terjadi lantaran terlambatnya pengoperasian Seksi II Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi).

Lokasi Bukit Algoritma itu sendiri, berdekatan dengan ruas tol Bocimi dan menjadi salah satu nilai jual proyek terhadap para investor. Dikarenakan keterlambatan pengoperasian, para investor sempat ragu untuk menanamkan dananya.