3 Fakta Obat Sirup Anak Stop Dikonsumsi dan Diperdagangkan

ilustrasi Obat Sirup. (PNGWing)

Safir.id—Obat sirup anak sementara waktu stop untuk dikonsumsi dan diperdagangkan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah memeriksa kandungan dalam obat sirup tersebut.

Tidak seluruh obat sirup dilarang. Dari berbagai sumber yang dihimpun Safir.id, Jumat (21/10/2022), saat ini ada 15 dari 18 obat sirup tersebut teridentifikasi mengandung zat tertentu.

Kemenkes dan BPOM, ahli epidemiologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), farmakolog dan puslabfor Polri masih memeriksa penyebab pasti dan faktor risiko penyebab gangguan ginjal akut progresif atipikal pada anak.

1. 5 Obat Sirup Diduga Mengandung Etilen Glikol

BPOM telah merilis 4 daftar lima obat sirup anak yang diduga mengandung etilen glikol dan Dietilen Glikol (DEG) melebihi ambang batas yang ditentukan.

BPOM melakukan sampling terhadap 39 bets dari 26 sirup obat yang diduga mengandung cemaran EG dan DEG berdasarkan kriteria sampling dan pengujian. Berikut ini daftar obat yang diduga mengandung cemaran EG dan DEG:

  1. Termorex Sirup (obat demam), produksi PT Konimex dengan nomor izin edar DBL7813003537A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.
  2. Flurin DMP Sirup (obat batuk dan flu), produksi PT Yarindo Farmatama dengan nomor izin edar DTL0332708637A1, kemasan dus, botol plastik @60 ml.
  3. Unibebi Cough Sirup (obat batuk dan flu), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DTL7226303037A1, kemasan dus, Botol Plastik @ 60 ml.
  4. Unibebi Demam Sirup (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL8726301237A1, kemasan dus, Botol @ 60 ml.
  5. Unibebi Demam Drops (obat demam), produksi Universal Pharmaceutical Industries dengan nomor izin edar DBL1926303336A1, kemasan dus, Botol @ 15 ml.

2. Kemenkes Imbau Apotek dan Tenaga Kesehatan

Kemenkes RI mengimbau seluruh apotek dan tenaga kesehatan untuk menyetop sementara penjualan maupun meresepkan obat sirup pada masyarakat, menyusul 206 anak Indonesia mengalami gangguan ginjal akut misterius yang 99 diantaranya meninggal dunia.

Juru bicara Kemenkes dr Mochammad Syahril dalam konferensi pers Rabu (19/10/2022), menegaskan, adapun alasan obat sirup dilarang lantaran obat yang dikonsumsi sejumlah pasien balita dengan kondisi gagal ginjal akut terdeteksi tiga senyawa berbahaya.

Oleh karena itu, sebagai langkah pencegahan peningkatan kasus gangguan ginjal akut misterius, penjualan obat sirup dihentikan sementara.

3. Rekomendasi Pengganti Obat Sirup

Selama larangan peredaran obat sirup berlaku, masyarakat dapat menggunakan obat alternatif dalam bentuk sediaan lain, seperti tablet, kapsul, suppositoria (anal), injeksi (suntik), atau lainnya.

“Kementerian Kesehatan mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk melakukan pengobatan anak sementara ini tidak mengkonsumsi obat dalam bentuk cair atau sirup tanpa berkonsultasi pada tenaga kesehatan, termasuk dokter,” jelas dr Syahril.

Itulah informasi terbaru tentang 3 fakta obat sirup sementara waktu stop diperdagangkan. TIM SAFIR