Alasan Tim Heri Amalindo Ikuti Lomba Bidar Tahun 2023

Ketua Rumah Bersama Heri Amalindo, Firdaus Hasbullah, SH (Foto Istimewa)

Safir.idTim Perahu Bidar Heri Amalindo akan ambil bagian dalam Lomba Bidar Tradisional dan Parade Perahu Motor Hias 2023 yang akan dilaksanakan di Plaza Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, Minggu (20/08/2023).

“Insya Allah Tim Bidar Heri Amalindo akan mengikuti lomba tersebut dan sudah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari,” kata Ketua Rumah Bersama Heri Amalindo Firdaus Hasbullah atau biasa disapa FH pada Rabu (16/08/2023).

FH menjelaskan, keikutsertaan Tim Heri Amalindo dalam lomba tersebut, karena sosok Heri Amalindo sangat peduli dan memiliki komitmen untuk menjaga kearifan lokal yang memiliki nilai sejarah.

“Komitmen tersebut sudah beliau buktikan di Kabupaten PALI. Dan Lomba Perahu Bidar ini memiliki sejarah panjang dan menjadi cerita rakyat khususnya bagi masyarakat di Kota Palembang,” katanya.

FH menambahkan, keikutsertaan Tim Heri Amalindo dalam Lomba Bidar bukan persoalan menang dan kalah, melainkan ada hal lebih penting yaitu spirit perjuangan yang gigih sebagaimana gigihnya para pejuang dahulu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

“Spirit ini yang harus kita jaga dalam setiap peringatan 17 Agustus, termasuk HUT ke 78 Tahun 2023 ini harus memberikan semangat dan motivasi kepada tim,” pungkasnya.

Baca juga: Asal Usul dan Sejarah Telok Abang, Khas Agustusan di Palembang

Sejarah Lomba Bidar Menurut Ahli

Sementara itu, merujuk situs warisanbudaya.kemdikbud.go.id, awal mulanya perahu bidar diperuntukan guna menjaga keamanan wilayah dengan melakukan patroli sungai menggunakan perahu.

Ketika itu, perahu patroli disebut perahu pancalang yang artinya pancal dan lang/ilang. Pancal berarti lepas, landas dan lang/ilang berarti menghilang.

Perahu ini dikayuh 8-30 orang. Bermuatan sampai 50 orang. Memiliki panjang 10 sampai 20 meter dan lebar 1,5 sampai 3 meter.

Menurut para ahli sejarah, perahu Pancalang inilah asal muasal lahirnya perahu bidar. Agar terjaga kelestarian perahu bidar, digelarlah lomba perahu bidar yang berlangsung sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam.

Dahulu lomba ini sering disebut dengan sebutan kenceran. Kini, tampilan perahu bidar sedikit berbeda dengan masa Kesultanan Palembang. ada dua jenis yang kini dikenal.

Pertama, perahu bidar berprestasi yang memiliki panjang 12,70 meter, tinggi 60 cm dan lebar 1,2 meter. Jumlah pendayung 24 orang, terdiri dari 22 pendayung,1 juragan serta 1 tukang timba air.

Kedua, jenis perahu bidar tradisional, yang memiliki panjang 29 meter, tinggi 80 cm serta lebar 1,5 meter. Jumlah pendayung 57 orang, terdiri dari 55 pendayung, 1 juragan perahu serta 1 tukang timba air.

Baca juga: Sejarah Goa Putri di OKU yang Dikunjungi Heri Amalindo

Sejarah Lomba Bidar Versi Cerita Rakyat

Menurut berbagai cerita rakyat, lomba Perahu Bidar diawali oleh perlombaan bidar antara dua pangeran Palembang dengan seorang pemuda dari Uluan.  Pertandingan bidar ini dipicu oleh perebutan seorang gadis bernama Dayang Merindu.

Di akhir pertandingan, kedua pemuda tewas karena sama-sama kelelahan. Sementara puteri Dayang Merindu dikisahkan bunuh diri, karena tidak sanggup menahan rasa sedih.

Dalam setiap peringatan 17 Agustus, Lomba Bidar menjadi tradisi untuk memeringati hari kemerdekaan.