Defenisi Milenial dan 4 Karakternya Dalam Politik

Ilustrasi kaum milenial

Safir.id—Menjelang pemilu 2024, partai politik sudah mulai bergerak untuk mencari simpati kaum milenial yang dianggap sebagai lumbung suara.

Gerakan dari sejumlah partai politik tersebut sangatlah wajar, mengingat jumlah kaum milenial sangat banyak dan berpotensi bisa memberikan suaranya pada Pemilu 2024.

Dari jumlah jumlah penduduk potensial pemilih pemilihan (DP4 ) yang telah dikonsolidasikan, diverifikasi, dan divalidasi DP4 Pemilu, tercatat lebih kurang 206, 68 juta jiwa dan perkiraan jumlah DP4 Pilkada lebih kurang 210,50 juta.

Merujuk Hasil Sensus Penduduk 2020 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Proporsi generasi Z (lahir tahun 1997-2012) sebanyak 74,93 juta jiwa atau 27,94 persen. Kaum milenial (lahir tahun 1981-1996) sebanyak 69,38 juta jiwa atau 25,87 persen.

Asal Usul Istilah Milenial

Pertama kali istilah milenial lahir dari seorang penulis bernama William Strauss dan Neil Howe sekitar tahun 1987. Istilah tersebut muncul, saat anak-anak yang lahir pada tahun 1987 mulai masuk pra sekolah. Media-media kala itu, mulai menyebut kelompok anak tersebut terhubung ke dalam istilah milenium.

William Strauss dan Neil Howe menulis mengenai kelompok milenium dalam bukunya berjudul “The History of America’s Future Generations, 1584 to 2069” tahun 1991 dan “Millennials Rising: The Next Great Generation” tahun 2000.

Menurut keduanya, setiap era generasi memiliki karakteristik umum dan karakteristik tersebut akan menjadi karakter generasi dengan empat pola yang terus berulang. Menurut hipotesis dari Strauss dan Howe, generasi milenial memiliki karakter antara lain: berwawasan sipil dengan empati yang kuat pada komunitas lokal maupun global.

Namun, penelitian yang dilakukan oleh Strauss tidak sepenuhnya dibenarkan oleh peneliti lain. Psikolog Jean Twenge menyebut bahwa istilah milenial merupakan “generation me” dalam bukunya berjudul “Generation Me: Why Today Young American Ar More Confident, Assertive, Entitled and More Miserable Than Ever Before” tahun 2006.

Menurut Twenge, istilah milenial merupakan sebutan yang kurang tepat. Sebab menurut dia, milenial merupakan generasi yang sama dengan gen x yang berusia lebih muda dan menjadi bagian dalam generation me.

4 Karakter Milenial Dalam Politik

Merujuk hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) seperti dilansir Safir.id dari Kompas.com, terdapat tiga karakter milenial atau juga disebut sebagai pemilih pemula.

1. Doubtfulness

Karakter Doubtfulness adalah generasi milenial yang masih belum menentukan pilihan. Mereka disebut sebagai swing voters dan rentan terbawa arus karena didoktrin.

2. Open minded

Karakter open minded adalah kaum milenial yang memiliki partisipasi dan pengetahuan tinggi terkait dengan politik atau melek politik. Bahkan, telah memiliki alasan untuk memilih.

3. Modest

Karakter milenial modest adalah mereka yang cenderung memilih berdasarkan peer atau orang terdekat. Biasanya karakter ini mudah dipengaruhi lingkungan rumah dan cenderung mengikuti pilihan keluarganya seperti ayah atau ibunya.

4. Apatethic

Karakter milenial apatethic adalah kaum milenial yang tidak memiliki pilihan dan tidak peduli dunia politik.

Itulah defenisi milenial dan 4 karakternya menyikapi politik khususnya di Indonesia. TIM SAFIR