FH: “Parpol Jangan Sekedar Cari Simpati Masyarakat Saat Mau Pemilu”

Menurut survei Indopol 35,93 persen tidak percaya partai politik

Ilustrasi parpol mencari simpati masyarakat.

Safir.id—Partai politik (parpol) jangan terkesan hanya mencari simpati saat mendekati pemilu saja, akan tetapi ada tugas lebih penting untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat.

Hal itu ditegaskan Ketua Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Sumsel Firdaus Hasbullah, SH atau FH kepada Safir.id, Sabtu (09/09/2022) saat dimintai tanggapannya tentang gerakan partai politik menjelang Pemilu 2024.

“Memang sekarang mulai ada trend parpol banyak yang mulai turun ke masyarakat baik untuk kebutuhan rekrutmen kepengurusan di desa atau kelurahan maupun untuk anggota partai, sementara selama ini kewajiban penting dari parpol sendiri belum terlihat dijalankan secara baik,” kata FH.

FH menyinggung, salah satu kewajiban partai politik adalah melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Jika kewajiban tersebut dijalankan secara benar, maka kepercayaan masyarakat terhadap partai politik akan sangat besar.

“Dalam undang-undang partai politik sangat terang dijelaskan, kewajiban partai politik salah satunya melakukan pendidikan politik dan menampung aspirasi serta menyosialisasikan program kepada masyarakat,” katanya.

Sejauh ini, kata dia, dirinya belum melihat bentuk pendidikan politik yang benar-benar dilaksanakan oleh partai politik terutama di daerah untuk mengedukasi masyarakat dan menyosialisasikan program partai.

FH menambahkan, momentum Pemilu 2024 sejatinya bisa dijadikan peluang bagi partai untuk melakukan pendidikan politik sehingga terwujud pemilih yang cerdas.

Mengapa Masyarakat Tidak Percaya Parpol?

Dari hasil survei Indopol pada 24 Juni-1 Juli 2022 yang dikutip Safir.id dari CNNIndonesia, mengungkap, sebanyak 35,93 persen tidak percaya partai politik.

Direktur Eksekutif Indopol Survey Ratno Sulistiyanto mengungkap, lebih dari sepertiga responden tidak percaya terhadap partai politik karena dianggap tidak bisa menampung aspirasi warga.

Kemudian 11,76 persen lainnya menilai partai politik telah kehilangan ideologi dan integritas. Adapun sejumlah alasan lain seperti, partai ikut merusak sistem pemerintahan, hingga tidak ikut berkontribusi pembangunan.

Namun begitu, angka kepercayaan responden terhadap partai masih lebih besar atau dominan, yang angkanya mencapai 52,16 persen. Mereka meyakini partai politik dapat menampung aspirasi warga. TIM SAFIR