Kisah 2 Politisi Muda Berkampanye Dengan Modal Receh

Ilustrasi Kampanye (PNGWing)

Safir.idPemilu 2024 akan digelar pada 14 Februari 2024. Artinya, tak lama lagi para calon legislatif (caleg) mulai memersiapkan diri untuk bertarung dalam demokrasi lima tahunan tersebut.

Salah satu yang sering dibicarakan oleh setiap caleg pada setiap kali pemilu adalah bagaimana menyiapkan modal untuk ongkos politik. Sebagian besar politisi beranggapan kalau biaya politik untuk kampanye besar, maka potensi jadi sebagai wakil rakyat juga besar.

Tapi anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Ada 2 kisah caleg yang saat ini berhasil duduk menjadi anggota DPRD periode 2019-2024 justru menggunakan modal receh saat kampanye.

Baca: Arti dan Istilah Kampanye, Masa Tenang dan Tahapan Pemilu 2024 Wajib Diketahui

Dari berbagai sumber yang dihimpun Safir.id, 2 caleg “modal receh” tersebut merupakan poltiisi muda yang pada Pemilu 2019 lalu hanya mengeluarkan biaya politik dengan modal silaturahmi sampai uang sebesar Rp3 juta.

1. Yoel Yosaphat

Yoel Yosaphat. (Foto swarajabbarnews.com)

Merujuk laman dprd.bandung.go.id yang diakses Safir.id, Selasa (27/09/2022), Yoel saat ini duduk sebagai anggota Badan Anggaran DPRD Kota Bandung. Pada Pemilu 2019 mengambil dapil Dapil 1 (Andir, Cicendo, Sukajadi, Sukasari) dari Partai Solidaritas Indonesia dan berhasil mendapatkan 3.321 suara.

Yoel merupakan politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Pada saat mencalonkan sebagai anggota DPRD Kota Bandung, modal yang dimiliki hanya Rp 3 juta. Ia mengaku saat itu tidak memiliki banyak uang. Ayahnya sudah meninggal dunia. Sementara, ibunya hanya pensiunan Guru SMP.

Yoel saat itu merasa beruntung karena mendapatkan diskon dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja sebagai marketing di salah satu perusahaan digital printing di Kota Bandung, Alhasil, kartu nama, spanduk, dan kalender untuk alat peraga kampanye mendapatan harga spesial.

Dari rekam jejak digital, perjuangan Yoel nampak tidak disia-siakan. Tercatat, politisi PSI ini menolak penyediaan Smartphone bagi anggota Dewan. Kemudian, ia juga memperjuangkan agar ada pemutihan iuran BPJS bagi masyarakat yang tidak mampu akibat pandemi.

Baca: Terungkap Ongkos Politik Jadi Gubernur, Bupati dan Walikota

2. Syarif Lutfi Almutahar

Syarif Lutfhi Muhtar. (Foto pan.or.id)

Politisi kedua yang mengeluarkan model receh saat kampanye adalah Syarif Lutfi Almutahar dari Partai Amanat Nasional (PAN). Pada Pemilu 2019, dirinya mendapatkan mendapatkan 2.094 suara. Sekaligus satu-satunya anggota dewan dari PAN di DPRD Kota Pontianak.

Syarif Lutfi menjelaskan, pada saat mencalonkan diri sebagai anggota dewan pada 2019, sama sekali tidak memiliki pengalaman politik. Hanya tekad yang bulat dan ketulusan untuk mengenalkan dirinya kepada masyarakat.

Setahun sebelum masa kampanye, ia rajin bersosialisasi ke rumah-rumah warga di sekitar daerah pemilihan dan menargetkan dalam satu hari bisa bersilaturahmi door to door ke 30 rumah warga.

Selain itu, Syarif tidak pernah berjanji saat kampanye. Sebab bagi dia, pemilihan legislatif merupakan sebuah pertarungan terbuka. Siapapun boleh menerapkan strategi yang menurut mereka paling cocok.

“Saya tak pernah memberi janji karena pemilih rata-rata muak dengan janji. Saya anggap semuanya tim dan keluarga saya,” katanya.

Dari rekam jejaknya yang dikutip Safir.id dari laman pan.or.id, Selasa (27/09/2022), Syarif Lutfi Almutahar getol menyuarakan terjadinya kelangkaan gas subsidi di Kota Pontianak. Bahkan, kelangkaan gas subsidi termasuk masalah klasik di Kalimantan Barat dan tak kunjung selesai. TIM SAFIR

Baca: FH Parpol Jangan Hanya Sekedar Cari Simpati Masyarakat Saat Pemilu