Refleksi Buku, Pemimpin dan Milenial

Ditulis oleh Kang Seha, Writerprenuer tinggal di Lubuklinggau.

Buku

Buku bagiku tak mengenal ruang dan waktu. Bukulah yang menyulam zaman keabadian. Bukulah yang mengingatkan kita, kapan cinta itu datang. Kapan pula, kita tiba dalam peristirahatan paling kekal. Buku bisa menafsirkan hidup. Selain itu, hanya omong kosong yang tak terukir oleh zaman.

Peradaban yang abadi, selalu dimulai dengan bacaan. Peradaban Yunani dimulai dari ‘Iliad’ Karya Homer sampai dengan Kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dari Karya Newton sampai Filsafat Hegel.

Begitupun peradaban Islam yakni Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW terbukti terus menyebar, menular dan mengakar sampai akhir zaman.

Buku tak akan menjebak zaman dengan kepalsuan. Buku masih jujur bicara dibandingkan (maap) para okum politisi. Bacalah, novel romansa politik karya terbaik Lan Fang. Sungguh, dilema mencintai dan memilih politisi. Sosok imajiner Fung Lin dalam novel itu, bisa jadi gambaran betapa oknum politisi masih ada yang berwatak seperti ‘tikus’.

Memang, tak semua politisi seperti itu. Masih banyak yang jujur dan baik. Bahkan, menaruh kegelisahan dengan menuliskan kesumatnya dalam sebuah buku yang akan menjadi sejarah kelak.

Pemimpin yang Tak Membaca Buku

Aku kagum dengan Yann Martel. Dialah penulis yang berani menguji imajinasi pemimpin negaranya. Selama hampir tiga tahun, ia tak bosan mengirimkan novel, kumpulan puisi, maupun drama kepada Stephen Harper, Perdana Menteri Kanada.

Martel meyakini, seorang pemimpin yang tidak membaca, atau tidak ingin mengetahui tentang orang lain akan punya visi yang membutakan. Dan fiksi bisa menjadi cara terbaik untuk mengeksplorasi yang lain.

Karya sastra yang ia kirimkan, dimaksudkan untuk menguji kualitas imajinasi sang perdana menteri. Selama berkorespondensi, Martel tak pernah satu kali pun memperoleh surat balasan dari Harper.

Baca juga: 2 Buku Agama Pilihan Heri Amalindo Bikin Hidup Lebih Hidup

Milenial Lupa Buku?

Sekarang, aku melihat zaman tak menghendaki generasi muda mencintai buku. Lihatlah mereka! Berduyun-duyun mengayun gadget. Bersuka cita dilantai dansa. Membuang gagasan di tempat karaoke. Atau berduyun-duyun melepas sesak di mall.

Makanya, wajar jika minat baca masih rendah. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 disebutkan, tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia secara keseluruhan berada di angka 59,52 dengan durasi membaca 4-5 jam per minggu dan 4-5 buku per triwulan.

Itulah yang aku tahu. Referensi apa yang kelak akan mereka gunakan, bila tidak membaca buku. Ironis memang, politisi, pejabat publik lebih sering menggadaikan gagasan dalam twit dan mengharubirukan bangsa di layar kaca.

Apa tanda zaman ini akan membunuh buku dengan tangah-tangan yang sering berpoya-poya, namun miskin mengukir zaman dan peradaban?

Refleksi buku tak sekedar kegelisahan. Semoga ada makna. Ada gairah untuk berbagi dan membuang gagasan dalam buku atau tulisan yang bisa menjadi warisan untuk peradaban. TIM SAFIR