Resensi “Ciuman Dibawah Hujan”: Politik, Cinta dan Kepalsuan

Buku Novel Ciuman di Bawah Hujan.

Safir.id—Menjelang Pemilihan Legislatif tahun 2024, salah satu novel politik masih relevan untuk dibaca adalah Ciuman di Bawah Hujan karya Lan Fang yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2010).

Novel Ciuman di Bawah Hujan awalnya cerita bersambung (cerbung) di harian Kompas pada Oktober 2009 – Februari 2010, sebagai suara Nurani penulisnya melihat perkembangan situasi politik pemilihan gubernur di Jawa Timur dan pemilu legislatif 2009.

Buku setebal 360 ini dikatakan sebagai novel di dalam novel seperti kisah percintaan Anna Winterbourne dengan Sharif al-Baroudi dalam novel The Map of Love karya penulis perempuan Mesir Ahdaf Soueif.

Hanya saja Lang Fang menuliskannya dengan gaya berbeda melalui kisah asrama seorang jurnalis perempuan yang sedang menulis novel dengan lelaki yang memliki profesi sama sebagai wakil rakyat.

Baca juga: 5 Cara Membuat Resensi Buku Untuk Pemula

Politik

Lan Fang berhasil menggarap tema politik dalam “Ciuman Di Bawah Hujan” secara dingin dan rapi yang ditokohkan kepada Ari dan Rafi.

Pengembaraan perempuan keturunan Cina yang tidak berminat membangun toko kelontong, harus jatuh cinta kepada lelaki dengan latar belakang yang berbeda.

Novel ini merupakan novel romansa cinta yang diilhami oleh filsafat politik Yukio Hatoyama, seorang Perdana Menteri Jepang yang menegaskan “politik itu cinta”.

Cinta

Tokoh utama dalam novel adalah gadis Tionghoa bernama Fung Lin. Berprofesi sebagai penulis sekaligus jurnalis.

Fung Lin menjalin persahabatan dengan dua orang anggota DPR, Rafi dan Ari. Namun, Lin menginginkan suatu saat Rafi bisa menciumnya di bawah hujan.

Lan Fang mampu memerdekakan tokoh utama Fung Lin melalui realitas politik yang menohok melalui dialog-dialog antara Fung Ling dengan Rafi juga Ari.

Lan Fang tidak membuat tokoh-tokoh dalam novelnya sebagai sosok sempurna. Seperti sosok Rafi dan Ari. Meskipun keduanya politikus muda idealis, namun kerap masih mencari pembenaran atas sikap-sikapnya yang salah di mata Fung Ling.

Baca juga: 4 Tips Bagi Pemula yang Ingin Menulis Buku

Kepalsuan

Disamping romansa cinta, novel Ciuman di Bawah Hujan juga menggambarkan soal pemilihan gubernur, kerusuhan Mei 1998, pemilu di jaman Orba, dan lumpur Lapindo.

Satu hal yang menarik adalah pandangan tentang amuk masa pada peristiwa Mei 98. Walau etnis Tionghoa banyak menjadi korban kerusuhan, namun Lan Fang dengan bijak memahaminya dengan kalimat dibawah ini:

“Penguasa adalah mereka yang besar dan raksaksa. Sedangkan orang-orang (rakyat) itu kecil dan terpinggirkan. Penguasa adalah mereka yang selalu dipatuhi. Sedangkan orang-orang ini adalah mereka yang tidak pernah dilihat apalagi didengarkan. Maka hanya dengan kemarahanlah mereka bisa terlihat dan terdengar oleh penguasa.”

“Kemarahan berbeda dengan kekecewaan. Setiap hari mereka sudah menelan kekecewaan. Mereka sudah terbiasa mengubur kekecewaan dengan diam-diam. Tetapi, bila kekecewaan itu bertumpuk terus menerus maka terbentuklah gunung kemarahan yang siap meledak.” (hal 181)

Novel ini secara keseluruhan menghidangkan bacaan cerdas untuk menilai bagaimana sosok politisi-politisi saat ini, sekaligus membuka kesadaran berpolitik agar selalu mendengar suara rakyat.

Baca juga: Refleksi Buku Pemimpin dan Milenial

Biodata Singkat Penulis

Lang Fang lahir di Banjarmasin, 5 Maret 1970. Ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Surabaya.

Ia aktif membimbing para pelajar dalam berbagai penulisan kreatif. Pada 25 Desember 2011, Lan Fang meninggal dunia saat usia 41 tahun karena kanker hati.

Semasa hidupnya telah menulis puluhan cerpen, buku anak, dan novel. Beberapa karya Lan Fang antara lain: Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-laki Yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun(2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), dan Lelakon (2007).

Novel Ciuman di Bawah Hujan merupakan novel ke-9 dari Lang Fang yang bisa menjadi bacaan cerdas bagi generasi saat ini.